MikroTik Policy Based Routing: Memisahkan Traffic Internet

23 Jan 2026
By Rosyid Majid

Mikrotik Policy Based Routing: Memisahkan Traffic Internet

Pada jaringan dengan lebih dari satu koneksi internet, sering kali dibutuhkan kebijakan routing khusus agar setiap segmen jaringan dapat menggunakan jalur internet yang berbeda. Tanpa konfigurasi yang tepat, seluruh traffic biasanya akan mengikuti satu default route, sehingga tidak sesuai dengan desain jaringan yang diinginkan.

Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, MikroTik menyediakan fitur yang sangat powerful yaitu Policy Based Routing (PBR).

Pada tutorial ini, kita akan mempelajari cara mengimplementasikan Policy Based Routing menggunakan konfigurasi IP statis, dengan studi kasus sederhana dan praktis yang melibatkan dua koneksi internet, yaitu ISP A dan ISP B.

Studi Kasus & Topologi Jaringan

Pada skenario ini, router MikroTik terhubung ke dua jalur internet yang berbeda:

  • ISP A terhubung ke interface ether1
  • ISP B terhubung ke interface ether2

Tujuan konfigurasi:

  • LAN 1 berada di interface ether3
  • LAN 2 berada di interface ether4
  • Traffic dari LAN 1 diarahkan melalui ISP B
  • Traffic dari LAN 2 diarahkan melalui ISP A

Contoh Topologi Policy Based Routing

Konfigurasi ini memungkinkan pemisahan jalur internet berdasarkan source subnet, yang umum digunakan pada lab, perkantoran, dan jaringan tersegmentasi.

Alokasi IP Address

Sebelum memulai konfigurasi, tentukan skema IP statis yang jelas seperti berikut:

Segmen Interface IP Address Gateway
ISP A ether1 192.168.1.2/24 192.168.1.1
ISP B ether2 10.10.10.2/24 10.10.10.1
LAN 1 ether3 172.16.10.1/24
LAN 2 ether4 172.16.20.1/24

Penggunaan network dan gateway yang berbeda untuk setiap ISP akan memudahkan proses routing, monitoring, dan troubleshooting.

Step 1 – Konfigurasi IP Address

Langkah pertama adalah menetapkan IP address pada masing-masing interface sesuai dengan perencanaan IP.

Konfigurasi IP address MikroTik untuk ISP A, ISP B, dan LAN

/ip address 
add address=192.168.1.2/24 interface=ether1 comment="ISP-A"
add address=10.10.10.2/24 interface=ether2 comment="ISP-B" 
add address=172.16.10.1/24 interface=ether3 comment="LAN-1"
add address=172.16.20.1/24 interface=ether4 comment="LAN-2"

Pastikan semua interface dalam kondisi running sebelum melanjutkan ke tahap berikutnya. Verifikasi konfigurasi IP dengan perintah:

Output ip address print MikroTik

ip address print

Step 2 – Membuat Routing Table untuk Masing-Masing ISP

Selanjutnya, buat default route terpisah untuk setiap ISP menggunakan routing mark. Routing ini nantinya akan dipanggil oleh aturan policy routing.

Routing table ISP A dan ISP B

`/ip route  add dst-address=0.0.0.0/0 gateway=192.168.1.1 routing-mark=to-ISP-A comment="Default Route ISP-A"  add dst-address=0.0.0.0/0 gateway=10.10.10.1 routing-mark=to-ISP-B comment="Default Route ISP-B"`

Pada tahap ini, router sudah memiliki dua jalur internet yang berdiri sendiri. Cek routing table dengan perintah:

Route print dual ISP MikroTik

ip route print

Step 3 – Konfigurasi NAT (Masquerade)

Agar client internal dapat mengakses internet, diperlukan konfigurasi NAT masquerade pada masing-masing interface ISP.

Konfigurasi NAT masquerade MikroTik dual ISP

/ip firewall nat 
add chain=srcnat out-interface=ether1 action=masquerade comment="NAT ISP A" 
add chain=srcnat out-interface=ether2 action=masquerade comment="NAT ISP B"

Tanpa NAT, traffic dari client tidak akan dapat berkomunikasi dengan jaringan publik meskipun routing sudah benar.

Verifikasi NAT rules dengan:

Firewall NAT rules MikroTik

ip firewall nat print

Step 4 – Policy Based Routing (Route Rules)

Pada tahap ini, kita menentukan kebijakan routing berdasarkan source IP address.

Policy based routing rules MikroTik

/ip route rule 
add src-address=172.16.10.0/24 action=lookup-only-in-table table=to-ISP-B comment="LAN 1 via ISP B" 
add src-address=172.16.20.0/24 action=lookup-only-in-table table=to-ISP-A comment="LAN 2 via ISP A"

Dengan aturan ini:

  • Traffic dari LAN 1 akan selalu keluar melalui ISP B
  • Traffic dari LAN 2 akan selalu keluar melalui ISP A

Step 5 – Default Route untuk Router

Agar router MikroTik sendiri tetap dapat mengakses internet (update, DNS, NTP, dll), tambahkan satu default route tanpa routing mark.

Default route untuk router MikroTik

/ip route  add dst-address=0.0.0.0/0 gateway=192.168.1.1 distance=1 comment="Default route for router"

Route ini hanya digunakan oleh router, bukan oleh traffic client.

Step 6 – Pengujian Konfigurasi

Setelah konfigurasi selesai, lakukan pengujian dari sisi client.

  • Dari client LAN 1, lakukan traceroute dan pastikan hop pertama melewati ISP B

    Traceroute LAN 1 via ISP B

  • Dari client LAN 2, lakukan traceroute dan pastikan hop pertama melewati ISP A

    Traceroute LAN 2 via ISP A

Jika hasil traceroute sesuai dengan gateway yang diharapkan, maka konfigurasi Policy Based Routing telah berjalan dengan benar.

Kesimpulan

Dengan menggunakan IP statis dan Policy Based Routing, pengelolaan multi-ISP pada MikroTik menjadi lebih terstruktur, terkontrol, dan mudah diprediksi.

Metode ini sangat cocok diterapkan pada lab jaringan, kantor, maupun environment yang membutuhkan segmentasi traffic berdasarkan kebijakan tertentu.